<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-35862660</id><updated>2011-04-21T15:18:48.046-07:00</updated><title type='text'>google</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35862660/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07124724879164579255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35862660.post-116058791108290534</id><published>2006-10-11T10:31:00.000-07:00</published><updated>2006-10-11T10:31:51.226-07:00</updated><title type='text'>"Ngedate Rame Rame"</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Aksi pacaran yang berlebihan bisa membuat nama Unila tercemar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi di akhir Januari. Mendung membayangi langit Universitas Lampung (Unila) diselingi angin semilir. Akar gantung di dua beringin meliuk liuk seiring hembusan angin. Daun rindang beringin memayunggi café dan beberapa bangku yang ada dibawahnya. ‘Beringin cinta’ warga Universitas Lampung (Unila) menamakannya. Posisinya tepat ditengah kampus dengan tujuh fakultas dan satu jurusan kedokteran. Itu lokasi strategis bagi setiap warga Unila untuk singgah tatkala lelah. Apa lagi dibawah beringin ada jalan setapak. Jalan pintas menuju Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ilmu Hukum (FH), dan pejalan kaki yang menuju kampung baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun hari itu, Unila libur tapi beringin cinta tetap ramai. Bangku semen dan kayunya selalu disinggahi orang. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WIB. Ketika saya melintas beringin terlihat dua pasang muda mudi. Mereka duduk di bangku semen yang memutari pohon. Sepasang di pohon beringin depan dan sepasangan di beringin dalam. Mereka ngobrol dan sesekali bercanda tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang pejalan kaki santai melintasi mereka. Namun pagi itu, durasi pejalan kaki agak lowong. Pasangan-pasangan itu semakin larut dalam obrolan. Si pemuda berkemeja warna krem dan bercelana dasar hitam dan si wanita pasangannya mengenakan kemeja kotak kotak warna merah biru dengan rok jeans biru panjang duduk saling mendekatkan. Mengobrol sambil tertawa dan diselinggi cubit cubitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah gedung Bahasa FKIP saya menuju gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Letaknya ada dibalik gedung diseberang mereka. Jarak antara saya dan mereka hanya lima meter. Ketika itu keduanya saling raba. Tangan masing masing berpegangan. Entah sadar atau tidak dengan kedatangan saya mereka tak bersuara. Diam sambil mendekatkan wajah mereka. Tak berselang lama kedua bibir itu berpautan. Adegan itu tidak terhenti saat saya melintasi jalan yang ada didepannya. Dunia terasa milik berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di gedung PKM, saya ceritakan kejadian tadi kepada rekan rekan saya. Semuanya terlihat jelas didepan mata. Dari cerita itu semuanya menjadi penasaran. “Difoto aja Cool” ujar seorang rekan yang sering memanggil namaku “To Cool”. Memuaskan rasa penasaran, saya pun kembali menuju kesana. Kali ini saya berjalan dari arah Fakultas Hukum. Ternyata kedua pasangan tadi masih ada disana. Duduk sambil melakukan hal yang sama ketika pertama kali saya lihat. Setelah dekat saya pura pura tak melihat. Terus melintasi mereka dan langsung menuju pos Satpam depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk dibangku dan mengobrol dengan empat orang Satpam yang sedang piket. Dari sini saya mengamati kearah beringin. Tapi tidak secara langsung. Pohon beringin menghalangi pemandangan. Cukup lama pasangan ini bertahan diberingin. Perhatian saya terus tertuju pada kedua pasangan tadi. Baru menjelang tengah hari mereka beranjak meninggalkan beringin cinta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa Sore (8/02) pukul 17.00 WIB. Bangku semen yang mengelilinggi dua pohon beringin masih diduduki penggunjung. Tepat disamping pohon gerobak somay dan lapak kaki lima penjual rokok terlibat jual beli. Zaenudin lelaki berkulit sawo matang tampak sibuk melayani pesanan. Bagi Zaenudin yang sudah berdagang di Unila sejak 1996 ‘Beringgin cinta’ merupakan lokasi yang sangat strategis untuk berdagang. Suasana intim pasangan yang datang disitu telah akrab dimatanya. Berpegangan tangan, berpelukan maupun bersendau gurau hampir dia jumpai setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaenudin pun tak segan segan menceritakan pengalamannya.“Pokoknya kalau disini mah bebas mas. Semua bisa janjian disini. Yang jelas nggak ada kosongnyalah dari pagi ampae sore. Makanya saya banyak akrab dengan pelanggan. Banyak yang kesini dengan kawannya. Apalagi hari Sabtu dan Minggu mereka sering janjian disini. Kalau hari hari biasa kadang sampai jam 6 sore masih ada.” Pernah juga, lanjutnya ada mahasiswa yang nanyain, Minggu dagang nggak? kenapa? Tanya saya. “Eh nggak taunya dia mau janjian ama ceweknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu Zaenudin melihat pasangan yang duduk di pojok kantin. Dari tempatnya hanya kelihatan rambutnya. Zaenudin yakin mereka sedang berpelukan atau berciuman. “Umumnya kalau ada pasanggan yang ketemuan disini nggak cuman ngobrol tapi juga peluk pelukkan.” Malah, cerita Zaenudin dengan nada meninggi, sering saya dengar yang jadian bertengkar atau malah putusan disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Rabu (9/02), saya kembali menggamati ‘Beringin Cinta’. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Segerombolan awan menghalangi sinar surya sehingga temperatur udara tak terlalu panas. Café sudah tutup. Hanya penjual somay dan tukang rokok yang masih tinggal disana. Keduanya berdagang diberinggin depan. Ada sepasang pembeli yang duduk di bangku semen. Mereka mengobrol sambil menyantap somay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diteras café yang sudah tutup banyak muda mudi asik berbincang bincang. Hampir satu jam saya ikut duduk disana. Melepas lelah sambil menyantap somay. Tak terasa petang tiba. Sayup sayup terdengar suara adzan dari Masjid Al Wasi’I . Gerimis pun datang. Titik titik hujan membasahi Unila. Pasangan pasangan berpencar. Mereka berpindah duduk. Satu pasangan tetap memilih di bagian beringin yang teduh dari hujan. Hembusan angin membuat pasangan itu merapatkan posisi duduknya. Sambil bercanda tangan keduanya terus berpegangan. Erat, seolah tak mau lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua mahasiswa pernah merasakan ademnya bernaung diberingin cinta. Ning mahasiswa Pertanian angkatan ’01 pun merasa nyaman janjian diberingin. “Saat ngobrol diberingin itu kesannya enak, adem jadi sering buat janjian. “Tapi kalau lagi rame nggak enak disini, males diliatin banyak orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sabtu (04/03). Jarum jam pagi itu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Suasana disekitar beringin masih lengang. Titik titik air hujan semalam masih melekat dibangku semen. Diujung ujung akar gantung beringin masih berembun. Dijalan pintas itu terdengar derap langkah beberapa siswa STM 2 Bandar Lampung yang kesiangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 09.00 WIB diberingin telah ada dua pedagang somay dan penjual rokok. Beringin depan dekat bundaran mulai disinggahi mahasiswa. Disitu pun terdengar tiga orang mahasiswa yang sedang berkelakar. Sementara semen yang menghadap kearah bundaran didominasi mahasiswi. Salah satunya Dessy Maya Sari, mahasiswi Bimbingan Konseling FKIP’04 yang sedang menunggu temannya. Sudah setengah jam lebih ia menunggu disini tapi orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Ia mulai gelisah. Tangannya sesekali membuka lembaran lembaran kertas. Materi kuliah yang ia photo copy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berselang satu jam serombongan mahasiswa datang dengan mengendarai sepeda motor. Sayang semuanya bukan orang yang ditunggu Dessy. Mereka menuju beringin bagian belakang lantaran kondisinya sepi. Suara percakapan dan canda mereka terdengar sampai di bangku kayu yang ada di samping beringin. Pagi itu mahasiswa yang datang keberingin tidak berpasang pasangan. Mereka berkelompok dengan teman sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai beranjak siang. Beberapa pasangan kencan mulai berdatangan. Diantara pengunjung yang duduk dibangku semen terlihat pasangan yang masih belia. Mereka duduk menghadap kearah café. Pasangan itu yaitu Rian Ardiansyah mahasiswa Tehnik Mesin ‘04 dan Dian Permatasari mahasiswi D3 Sekretaris ’04. Siang itu mereka tampak ceria. Raut wajahnya berseri seri. Sesekali keduanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain nuansanya yang adem Beringin Cinta (Berta) mempunyai kenangan tersendiri bagi Ryan dan Dian. Pasangan kekasih yang telah berjalan sekitar lima bulan ini pun bertemu disini. Menurut Rian pertemuanya dengan Dian berawal ketika ia sedang nongkrong bersama teman temannya di kantin beringin. Kebetulan saat itu teman satu jurusan Rian merupakan teman SD Dian.&lt;br /&gt;“Jadi temanku itu temannya Dian juga. Emang nggak nyangka. Waktu itu lagi cuci mata bareng bareng. Nggak taunya ada yang udah kenal,” kenang Rian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perkenalan itu hubungan mereka jadi lebih spesial. Dan teman Rian itu juga yang menjadi mak comblang nya. Selain menjadikan tempat janjian pasangan ini juga sering saling curhat diberingin. Disini mereka bisa melepas kejenuhan sehabis kuliah dan melepas kangen. “Nama Beringin Cinta emang pas,” tambah Rian mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Image beringin cinta sudah melekat disebagian besar mahasiswa Unila. Kata beringin cinta sering dikaitkan dengan janjian dan kencan.Tapi sayang jika image itu harus rusak karena segelintir orang. Indri Hafsari mahasiswi Ekonomi semester 6 pun pernah menemui hal ini. Pagi itu sekitar pertengahan Februari ia mau pergi ke Tanjung Karang. Karena kos di Kampung Baru ia pun lewat jalan pintas yang ada dibawah beringin. Sesampainya didekat pohon beringin ia terkejut. Tanpa sengaja matanya melihat sepasang kekasih yang tengah kencan di beringin belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ia dan ibu ibu Kampung Baru yang melintas didekatnya merasa prihatin. “Kok Mahasiswa seperti itu yaa. Katanya kaum terdidik kok ciuman ditempat terbuka.” Mendengar komentar itu Indri yang berjalan disamping mereka hanya terdiam. Ia tetap meneruskan langkah kakinya. Ia takut kalau omongannya malah membuat suasana tak nyaman. “Selain mengobrol pasangan kencan itu pun berciuman. Bahkan saat itu udah sampai buka dada. Kalaupun mereka mau melakukan yang kayak gitu ya tolong ditempat tertutup lah.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Beringin Cinta yang teduh. Kondisi Gedung Serna Guna (GSG) Unila malam hari menajdi tempat nyaman untuk kencan. Yunita Sari Mahasiswa Penjaskes ’02 yang juga atlit atletik sering memergoki. Selama persiapan latihan ia dan sembilan temannya tinggal di asrama GSG. Saat ditanya pengalamannya Minggu (13/02) ia pun mulai berceloteh. “Memang GSG biasanya dijadikan tempat untuk kencan. Yang kencan disini pun beragam Mas”.&lt;br /&gt;“Mereka mulai dari anak SMP,SMA, mahasiswa sampai bapak bapak.”&lt;br /&gt;“Kalau malam sering ngelihat, ya kalau sekedar ngobrol yaa nggak mungkin lah. Kadang malah kiss kiss an yaa nggak tahu terus ngapain lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunita sering melihat pasangan duduk duduk dibawah, lama lama ditangga terus naik kelantai dua. “Kalau lagi libur habis semester ramai banget, kesempatan kan, he…he…he.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman seperti itu ternyata tak hanya dialami Yunita. Satpam Unila yang kontrol malam juga punya banyak pengalaman unik. Nurzen Kepala Regu Satu Satpam Unila. Sudah bertahun tahun ia menjadi petugas keamanan Unila. “Dulu ada mahasiswa yang ceweknya pake jilbab malem gendong gendongan, ketahuan terus saya tegur. Biasanya sih didepan perpustakaan, selasar pertanian, GSG, dan di FKIP. Biasanya juga ada yang ‘gituan’ didalam mobil. Mobil diparkir dan lampu dimatiin,” ceritanya. Pernah ada kasus, kata Nurzen kabarnya pemerkosaan, tapi kenyataannya nggak. “Malam itu ada angkot luar yang masuk ke Unila bawa “wanita malam” gituannya (hubungan badan) dibawah bambu dekat BNI. Karena nggak dibayar sama sopir sopir itu ia pun ngadu ke Polsek kalau ia diperkosa. Malam itu saya lagi jaga. Kalau emang ada pemerkosaan kan biasanya ada suara jeritan. Tapi malam itu nggak ada sama sekali, ha…ha…ha…”s&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35862660-116058791108290534?l=iskandartoocool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/feeds/116058791108290534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35862660&amp;postID=116058791108290534' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35862660/posts/default/116058791108290534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35862660/posts/default/116058791108290534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/2006/10/ngedate-rame-rame.html' title='&quot;Ngedate Rame Rame&quot;'/><author><name>pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07124724879164579255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35862660.post-116058700840707200</id><published>2006-10-11T10:10:00.000-07:00</published><updated>2006-10-11T10:16:48.420-07:00</updated><title type='text'>Kincir Air Buatan Petani Kakao</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kepulan hitam asap lampu sentir hanya tinggal kenangan. Dusun Sido Maju,Desa Wates, Padang Cermin Kabupaten Lampung Selatan kini bisa menikmati listrik meskipun tidak berasal dari Pembangkit Listrik Negara (PLN).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Desa mati. Begitu sebutan bagi Dusun Sido Maju oleh sebagian warganya. Bagaimana tidak, bila malam tiba, dusun yang terletak di dataran tinggi ini seperti desa mati karena tidak ada aktivitas warga. Setiap malam warga hanya menggunakan lampu sentir (lampu kecil berbahan baker minyak tanah) untuk penerangan tempat tinggalnya dan lebih memilih diam didalam rumah karena sepanjang jalan desa gelap gulita. “Dulu tembok ini item semua kena asap lampu, maklum masih pakai sentir. Tapi semenjak pakai turbin enak banget, udah kayak listrik PLN,” ujar Saiman (58), warga Sido Maju yang telah menetap sejak 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kondisi itu sekarang telah berubah. Perubahan ini tak lepas dari pemikiran Sugiyono (49). Sebagai orang yang dituakan, ia lalu mengajak masyarakat untuk berpikir lebih maju. Ia ingin memecah kesepian dusun penghasil pohon kakao ini. Warga mengaku sudah berulang kali meminta saluran listrik kepada Pembangkit Listrik Negara (PLN) lewat kepala desa. Namun usulan warga tersebut tidak pernah membuahkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan menunggu membuat petani kakao ini mengumpulkan teman-temannya untuk membeli diesel secara bergoton royong. Alhasil aliran listrik dari mesin diesel ini bisa digunakan untuk menerangi dua puluh rumah. Diesel digunakan setiap malamnya hingga pukul 23.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi membuat masyarakat kewalahan. Karena anggota kelompok listrik diesel ini umumnya adalah petani, maka mereka pun tidak mampu menjangkau harga solar yang terus naik. Belum lagi iuran untuk biaya perawatan mesin diesel kalau ada kerusakan. Beban berat yang ditanggung anggota pun semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ide untuk menerangi dusun muncul. Suara gerojok aliran sungai yang ada dibelakang rumah Sugiyono menjadi inspirasi baginya. Bersama dengan warga ia merancang kincir air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan kincir ini dilakukan dengan cara membendung aliran sungai yang memiliki air terjun. Karena untuk menggerakkan kincir diperlukan debit air yang besar maka kincir dirasa tidak cocok untuk debit air sungai ini. Akibatnya listrik yang dihasilkan kurang maksimal dan sering redup. Bahkan sering masalah lantaran kincir tidak bisa berputar kencang. Karena lampu yang dihasilkan remang-remang dan redup, penggunaan kincir air ini pun sumber listrik hanya bertahan satu tahun.&lt;br /&gt;Meski kembali mengalami kegagalan, tapi tak membuat semangat Sugiyono pupus. Suatu hari Sugiyono mendengar ada turbin baru di Desa Wono Rejo. Merasa tertarik ia pun mengajak Yanto Pentil dan M Halim untuk membuatnya.&lt;br /&gt;Yanto yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang las menyanggupi untuk membuat turbin yang terbuat dari besi baja. Bahan yang diperlukan untuk membuat turbin adalah dinamo, kabel, pembelian drum bekas, kawat, dan semen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancangan turbin pun dibuat. Karena sudah begitu akrab dengan besi dan las, dalam melakukan pekerjaannya Yanto tidak membutuhkan waktu lama. Hanya beberapa hari turbin tersebut sudah selesai dibuat. Mirip seperti turbin buatan pabrik yang ada di Wono Rejo. Untuk menghasilkan listrik sudah barang tentu turbin harus dihubungkan dengan dinamo. Maka dibelilah dinamo bekas yang masih dapat digunakan untuk melengkapi kerja turbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah turbin selesai dibuat, selanjutnya mereka mencari tempat yang cocok untuk meletakkan turbin. Turbin tidak bisa ditempatkan disembarang tempat. Ada kriteria khusus yang harus dipenuhi yaitu pada daerah yang memiliki terjunan air cukup tinggi dan bisa dijangkau. Ketinggian air diperlukan untuk mendapatkan gaya yang lebih besar pada baling baling turbin. Untuk menuju ke terjunan turbin, dibuat jalan undak-undakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar mendapatkan debit air yang konstan maka diperlukan tempat penampungan air sementara. Daya tampung minimum yang harus dipenuhi pada penampungan air yaitu sebesar 2,5 kubik. Bak penampungan ini berada pada bagian atas terjunan. Bisa disalah satu sisi titik awal terjunan. Pembuatannya dilakukan dengan membendung sebagian aliran air disisi atas terjunan. Selanjutnya dari penampungan, air akan dialirkan melalui gandengan drum bekas menuju turbin. Sebelas drum bekas pada masing masing ujungnya dibuang tutupnya dengan pada ujung bawah dibuat lebih sempit. Ini dibuat dengan tujuaan agar daya tekan air yang menuju ke turbin semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan turbin akibat aliran air akan diteruskan untuk memutar dinamo. Mesin dinamo kemudian mengubah energi gerak pada poros dinamo menjadi energi listrik melalui perputaran magnet yang ada didalamnya. Pada dinamo juga dilengkapi petunjuk tegangan, daya dan arus yang dihasilkan oleh dinamo. Dari dinamo listrik sudah bisa disalurkan ke rumah-rumah untuk dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran turbin yang digunakan yaitu lebar 15 cm dan panjang 30 cm. Sementara pada dinamonya tertulis spesifikasi ukuran daya 20 KW, tegangan 400/230 V, 36,1 A. Pada debit air normal daya yang dihasilkan berkisar pada 8000 Watt. Di siang hari tegangan yang dihasilkan antara 190-200 V. Sedangkan pada malam hari antara 100-150 V. Setiap hari listrik dari turbin ini bisa digunakan untuk memenuhi keperluan 26 keluarga termasuk Mushola dan tempat-tempat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total dana yang dihabiskan sampai turbin bisa menghasilkan listrik yaitu Rp13 juta. Untuk biaya perawatan turbin masing masing keluarga akan diminta setiap bulan. Biaya ini disesuaikan dengan pemakaian listriknya. Besarnya tidak dihitung berdasarkan KWH yang dipakai melainkan berapa banyak lampu dan barang elektronik yang digunakan. Untuk empat lampu, besar iuran berkisar Rp10 ribu, ditambah tape atau radio Rp15 ribu sedang ditambah TV dan barang elektronik lain Rp20 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya ini relatif cukup murah mengingat listrik bisa digunakan setiap hari. Selama debit air sungai masih cukup maka listrik tidak akan pernah berhenti. Bahkan kemudahan ini cenderung membuat masyarakat sekitar poya-poya dalam menggunakan listrik. Suara musik dari tape atau radio akan sering terdengar meskipun penghuni rumahnya sedang berada di pekarangan. Dalam pengoperasiannya sehari hari turbin ini menjadi tanggung jawab M Halim selaku kepala dusun dan ketua kelompok. Sementara bagian teknisinya tetap dipercayakan pada Sugiyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kendala yang sering dihadapi pada turbin ini, seperti kondisi posisi air yang tidak pas dengan turbin, baut turbin yang kendor, posisi turbin yang tidak seimbang, berkurangnya debit air, atau ada sampah di bagian bak penampng. Namun dengan begitu, turbin ini mampu menerangi rumah-rumah dari 52 kepala keluarga.&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sistem Kerja&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Air dari aliran sungai masuk dalam penampungan air sementara&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Air memasuki penampungan air yang berada di atas dekat titik awal terjunan, ketinggian kira-kira 5 m.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari penampungan air mengalir melalui lubang gandengan drum bekas menuju turbin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Air dari ujung drum masuk dalam kotak besi tempat turbin diletakkan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aliran air memutar turbin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perputaran turbin diteruskan kedinamo dengan menghubungkan ujung turbin ke poros dinamo menggunakan karet poli&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dinamo mengubah energi gerak menjadi energi listrik melalui perputaran magnet yang ada diporosnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Listrik dari dinamo disalurkan kerumah rumah melalui kabel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Listrik siap digunakan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35862660-116058700840707200?l=iskandartoocool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/feeds/116058700840707200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35862660&amp;postID=116058700840707200' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35862660/posts/default/116058700840707200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35862660/posts/default/116058700840707200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/2006/10/kincir-air-buatan-petani-kakao.html' title='Kincir Air Buatan Petani Kakao'/><author><name>pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07124724879164579255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35862660.post-116058486523558979</id><published>2006-10-11T09:38:00.000-07:00</published><updated>2006-10-11T09:41:05.256-07:00</updated><title type='text'>Liputan Budaya</title><content type='html'>Ngaben:&lt;br /&gt;Pengembalian Manusia Keasalnya&lt;br /&gt;Iskandar Saputra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang masuk alun alun desa Sido Waluyo, Lampung Selatan tampak lain dari biasa. Berbagai hiasan terbuat dari janur kelapa yang dipadukan dengan pernak-pernik potongan seng kertas keemasan membalut alun-alun. Pancaran cahaya matahari membuat hiasan – hiasan ini memantulkan warna kilap keemasan. Selain hiasan janur, belasan umbul umbul yang mengelilingi alun alun, makin menyemarakan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang dari berbagai daerah di Propinsi Lampung, hari itu berduyun-duyun memadati alun alun seluas seratus meter persegi, tuk melaksanakan ritual suci, Ngaben. Ditengah alun alun berdiri kokoh sebuah wadah, bangunan dari bambu yang menyerupai Pura. Disinilah jenasah-jenasah akan dibakar. Ngaben massal (pitra yadnya) merupakan prosesi keagaman  Hindu yang masih sangat jarang ditemui di Bumi Ruwa Jurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai banjar, tempat pertemuan warga desa yang berada di samping gerbang dirombak habis. Bangunan berlantai dua ini dipadati sesajen  dari aneka bunga, buah, janur, dan dupa untuk persembahyangan. Tak sembarangan orang boleh masuk ke dalam balai. Seorang pendeta tampak bersila diatas meja, khusuk melakukan persembahyangan. Kerutan-kerutan di dahi menandakan usianya telah senja. Didalam Balai Banjar  terdapat ruangan yang disekat kain merah, tempat untuk para pendeta melepas lelah seusai melakukan persembahyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tarup, di samping balai banjar  para tokoh masyarakat duduk rapi. Personel musik gamelan siap menanti aba-aba. Ukiran dan gambaran khas daerah Bali tampak pada setiap peralatan yang digunakan. Selain unsur sesajen, sajian tari menjadi keharusan, seperti tari Baris Tombak,  tari Baris Jejer,  atau tari Baris Pati. Masih sama dengan tarian Bali lainnya, ekspresi mata sangat ditonjolkan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelum upacara ngaben massal diadakan, para pendeta dan masyarakat setempat melakukan maturan suci (kunjungan) ke pura yang ada di lingkungan desa. Berbagai sesajen selalu melengkapi upacara sembahyang, agar doanya  diterima disisi Syang Hyang Widi Yasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum upacara ngaben, ritual diawali dengan upacara manah tirta yang diikuti diikuti oleh seluruh warga yang terlibat dalam prosesi ngaben. Manah tirta yang dipimpin para pendeta dimulai dengan mengelilingi desa. Setiap perempatan jalan, beberapa sesajen ditinggalkan, sebelumnya dilakukan manah tirta. Yaitu memanah sekuntum bunga kearah langit.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Malam mulai merayap. Alun-alun terang benerang oleh cahaya lampu neon. Semakin malam pengunjung semakin banyak. Dilantai atas balai banjar terlihat para pendeta kembali melakukan persembahyangan. Tepat tengah malam, ritual dilajutkan dengan memanggil para roh mayat yang akan dingabenkan.  Suasana benar benar hening. Lampu-lampu neon dipadamkan. Serempak peserta ngaben langsung membakar dupa. Dupa diletakkan diantara lipatan telapak tangan dan ditempelkan dekat dada. Setelah mengadakan persembahyangan mangku memercikkan air suci yang sudah didoakan pendeta pada setiap orang yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin berhembus, hiasan janur bergoyang-goyang. Di dalam balai banjar pendeta pemimpin sembahyang terlihat sedang mengobrol. Anehnya, tak tahu siapa yang diajak bicara. Menurut penduduk, itulah percakapan pendeta dengan para roh. Biasanya pendeta menanyai tentang pesan apa yang akan disampaikan untuk keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah percakapan, para roh yang disimbolkan dengan boneka kayu dimandikan. Roh disabuni, disikati dengan sikat gigi lengkap dengan pastanya dan dikeramas sampo. Dilanjutkan dengan menyisiri, membedaki, dan memberinya wewangian. Roh roh itu selanjutnya dibungkus dengan kain kafan dan dimasukkan ke dalam peti kecil. Sebelum peti ditutup sanak kerabat dipersilahkan untuk memberi sesajen dan sejumlah uang yang diselipkan pada sajen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, para roh disembahyangkan. Pendeta akan memberi petunjuk jalan yang benar menuju kayangan agar bisa bertemu dengan Syang Hyang Widi Yasa di nirwana.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Titik embun kian membasahi lembaran lembaran daun rerumputan yang tumbuh dialun alun. Dingin, namun persembahyangan tetap berlangsung. Aroma dupa menyebar kesegala penjuru.Setelah rangkain persembahyangan selesai keluarga peserta ngaben pergi menuju ke pemakaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi buta, para pengali kubur sibuk mencangkul gundukan tanah perkuburan.  Saat jasad sudah mulai terlihat, penggali dan keluarga pun riuh menyambutnya dengan panggilan dan bacaan doa-doa.&lt;br /&gt;“Bangun.”&lt;br /&gt;“Bangun.”&lt;br /&gt;Suara dari sanak kerabat mayat terdengar berulang ulang. Mayat yang telah terkubur, mereka anggap masih berada dalam tidur panjang. “Uak…uak…uak…” Beberapa orang muntah. Mayat terlihat. Bau busuk begitu menyengat. Mungkin karena terbiasa, dengan tenang para penggali mengangkat jenazah. Untuk menghilangkan atau mengurangi bau busuk, pihak keluarga mayat sudah menyiapkan sejumlah wewangian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kain kafan putih yang telah bercampur dengan lumpur dibuka. Jasad yang sudah  menjadi tengkorak disiram air, lumpur-lumpur yang sudah menyatu dengan tulang dikorek. Puluhan kubur yang dibongkar ternyata tak semua mayat telah menjadi tengkorak. Ada sebagian mayat yang masih berdaging, karena waktu penguburannya belum terlalu lama. Saat diangkat beberapa bagian mayat berpisah dengan tubuhnya. Bahkan ada yang kepalanya terputus. Namun pihak keluarga tetap membersihkan tiap bagian yang terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma daging terpanggang, menyebar dikuburan. Kobaran api membuat suasana pekuburan kian terang. Ternyata mayat yang masih utuh, oleh pihak keluarga langsung dibakar di kuburan itu juga. Abu mayat terlihat lebih putih dibandingkan dengan kayu dimasukkan dalam kotak kecil dan dibawa pulang oleh pihak keluarga.&lt;br /&gt;Mayat-mayat yang tinggal tengkorak,  dibersihkan dan dibungkus dengan kain kafan.Untuk diikutsertakan pada upacara pembakaran.     &lt;br /&gt;   ***&lt;br /&gt;Menurut asal katanya Ngaben berasal dari bahasa Sanksekerta yaitu keprabon yang berarti pengabuan atau diabukan. Setiap pemeluk agama Hindu yang meninggal pasti akan dibakar  karena ini sebuah kewajiban. Pembakaran jenazah dimaksudkan untuk mengembalikan manusia kepada unsur asalnya yang mereka percayai terdiri dari lima unsur yang disebut Pance mahabude: padat (tanah), air, angin, api dan ester (angkasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ajaran agama Hindu, manusia terdiri dari tiga lapisan yaitu stula sarira (badan kasar), suksma sarira (badan halus), dan atma (roh murni). Dengan mengembalikan manusia pada unsur asalnya maka manusia yang meninggal itu telah terbebas dari segala urusan dunia. Selanjutnya manusia yang meninggal itu akan menemui Syang Hyang Widi Yasa dikayangan dan akan dipermudah dalam proses penitisan atau reinkarnasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngaben sendiri dalam pelaksanaannya ada dua jenis yaitu nyawe widane, atau ngaben yang jenazahnya langsung dibakar dan nyawe resi atau ngaben yang jenazahnya dimakamkan dulu baru dibakar. Sebenarnya tidak tidak ada perbedaan yang mencolok diantara keduanya hanya saja dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi mayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya acara yang perlu dilakukan, tak heran bila biaya yang dikeluarkan berkisar dari belasan sampai puluhan juta rupiah. Meskipun menghabiskan biaya yang cukup besar namun setiap keluarga yang melaksanakan ngaben merasa senang karena itu merupakan bakti yang terakhir kepada sang atma (roh). Bagi masyarakat Bali yang ekonominya kurang mampu, jenazah yang akan dibakar dapat dimakamkan terlebih dulu untuk menunggu diikutsertakan dalam pitra yadnya atau ngaben massal. Ngaben massal seperti ini biasa dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali di Sido Mulyo, Lampung Selatan. Umumnya jenazah yang dikuburkan tidak lebih lama dari lima tahun dan selanjutnya disucikan lalu dikremasi (meralina).&lt;br /&gt;Pada ngaben massal biaya yang dibutuhkan akan ditanggung bersama secara gotong royong oleh orang-orang yang keluarganya belum sempat dingabenkan. Menurut  I Nyoman Widi, warga Sido Mulyo, Lampung Selatan yang keluarganya ikut dingabenkan massal, sebelum mengadakan ngaben selalu ada musyawarah bersama untuk menentukan besarnya dana sumbangan. Karena pada ngaben massal ini ada banyak sawe (jenazah/kerangka manusia), untuk mempersiapkannya diperlukan waktu berbulan-bulan. Semua umat Hindu Bali dari manapun boleh bergabung bila ada keluarganya yang sudah dikubur dan belum sempat dingabenkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan beragama masyarakat Hindu Bali berpatokan pada panca yadnya atau lima upacara suci yaitu Dewa Yadnya (upacara suci kehadapan para dewa), Bhuta Yadnya (upacara kehadapan unsur unsur alam), Manusa Yadnya (upacara suci kepada manusia), Pitra Yadnya (upacara suci bagi manusia yang telah meninggal ), dan Rsi Yadnya (upacara suci kepada orang suci umat).&lt;br /&gt; ***&lt;br /&gt;Pagi tanggal 1 September 2004 dialun alun desa SidoWaluyo terlihat banyak undangan dari berbagai kalangan. Hari ini akan dilakukan prosesi ngaben yang telah ditunggu tunggu.  Tari Baris Tombak sebagai pembuka. Tarian yang melibatkan sebelasan orang ini berlangsung sekitar dua puluh menit. Ekspresi para penari yang lincah dalam memainkan bola matanya membuat perhatian para pengunjung. Gerakan jemari tangan, kaki, kepala dan beberapa anggota tubuh itu sangat serasi dalam balutan busana daerah yang memiliki corak corak unik. Tarian ini menggambarkan beberapa orang prajurit kerajaan Bali dengan membawa tombak sebagai peralatan perang. Pemimpin pada tarian ini menggunakan sebilah keris khas daerah Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu pendeta dan para mangku (sesepuh adat) memberi tanda bahwa sawe siap ditempatkan ke balai tajuk dan wadah. Ada 23 sawe yang akan dingabenkan. Satu demi satu peti kecil itu pun dimasukkan ke balai tajuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan aba aba dari para mangku, balai tajuk dan wadah ini pun mulai diangkat.&lt;br /&gt;Saat mulai berjalan semua diatur serapi mungkin dengan urutan balai tajuk berada di depan, disusul iringan sapi, bahtera, dan wadah. Pihak keluarga yang anggotanya ikut dingabenkan mengambil posisi paling depan. Iringan musik menambah kemeriahan suasana yang sakral ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pande (penangung jawab ngaben) duduk di atas wadah. Ia laksana sopir yang mengendalikan jalannya wadah. Diatas wadah itu juga ada dua orang pendeta, penabuh gamelan, dua anak kecil dan para pejabat yang diundang. Sesekali para pengangkat balai tajuk dan wadah ini disirami air untuk membangkitkan semangatnya. Apapun resikonya pengangkat wadah akan menjaganya  agar bisa sampai di tempat pembakaran dengan selamat. Bunga-bunga ditaburkan kejalanan yang dilalui. Kepulan asap dupa para mangku pun tak ketinggalan menambah semerbak perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainnya ditempat pembakaran semua balai tajuk diletakkan pada posisinya masing masing. Acara pembakaran ini diawali dengan Tari Baris Tombak dan puji pujian kepada para dewa. Berbagai macam sesajen diletakan di sekitar pembakaran. Kayu bakar, ban bekas, minyak tanah, dan kayu cendana agar siap membakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api pun berkobar. Jilatan merah kehitaman raksasa membuat pengunjung yang ada disekitar pembakaran berlari menjauh hingga beberapa puluh meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan yang dilakukan berbulan bulan lenyap hanya dalam hitungan detik. Sambil menunggu api padam, peserta ngaben mengadakan doa bersama untuk melepas kembalinya jasad keasalnya (ester). Selanjutnya mangku memercikkan air suci  yang telah didoakan oleh pendeta kepada peserta ngaben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api padam, abu putih menyembul diatas permukaan arang kayu. Pihak keluarga mayat segera mengambil abu abu itu dan selanjutnya dilakukan upacara ngayut. Yaitu penghanyutan abu ke laut untuk mengembalikan manusia ke salah satu unsur penyusunnya yaitu air. Air laut tempat abu dihanyutkan diambil beberapa botol untuk dibawa pulang dan ditempatkan di pura rumah keluarga mayat masing masing. Untuk menghormati arwah yang telah kembali kekayangan, setiap pura diberi sesajen dan dibakarkan dupa setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pendeta Sri Empu Buana Aji, setelah semua ritual ini selesai maka arwahnya akan diterima Shang Hyang Widi di nirwana. Pendeta dan sanak kerabat akan selalu mendoakanya dari bumi agar perjalanannya kekayangan lancar tanpa ada gangguan.**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35862660-116058486523558979?l=iskandartoocool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/feeds/116058486523558979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35862660&amp;postID=116058486523558979' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35862660/posts/default/116058486523558979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35862660/posts/default/116058486523558979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandartoocool.blogspot.com/2006/10/liputan-budaya.html' title='Liputan Budaya'/><author><name>pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07124724879164579255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
